Pinjaman Uang Untuk Kebutuhan Konsumtif? Ubah Jadi Hutang Produktif!

Bukan biaya hidup yang mahal, tapi gaya hidup yang terlalu tinggi! Sering mendengar pepatah tersebut? Diakui atau tidak, masih orang Indonesia yang masih mengandalkan Pinjaman Uang untuk biayai kebutuhan konsumtif mereka.

Misalnya, seseorang rela meminjam uang demi membeli kamera DSLR padahal dia bukan seorang fotografer, membeli smartphone bermerek padahal hanya untuk membuka sosial media, dan hal lainnya yang sebenarnya tidak dapat menghasilkan sesuatu, kecuali kesenangan dan gengsi semata.

Kenalan Yuk Dengan Hutang Konsumtif!

Mari kita tentang sifat dari hutang konsumtif. Dilansir dalam detik finance, hutang konsumtif merupakan uang yang didapat dengan cara meminjam, dan digunakan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif.

Untuk mengetahui sifat dari hutang konsumtif adalah, nilai aset yang dibeli dengan cara berhutang akan terus mengalami penurunan seiring berjalannya waktu (depreciate). Misalnya barang elektronik, seperti TV, smartphone, sepeda motor dan lainnya.

Semua barang-barang tersebut nilainya akan menyusut seiring berjalannya waktu. Misalnya smartphone yang harganya akan anjlok setelah dijual dalam kondisi bekas. Hal yang sama pun berlaku untuk sepeda motor dan barang-barang lainnya

Selain itu, hutang yang bersifat konsumtif pun bersifat tidak dapat memberikan income yang lebih besar, atau minimalnya sama dengan biaya cicilan utang yang harus dibayar (pokok dan bunga).

 

Apakah Hutang Konsumtif Bisa Diubah Jadi Hutang Produktif?

Tentu saja bisa. Dalam hal ini, Anda wajib mengetahui bagaimana cara penggunaan barang-barang tersebut agar tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang saja. Misalnya, saat Anda mencicil televisi, gunakan televisi tersebut untuk dapat memberikan Anda penghasilan sampingan, misalnya bisa Anda sewakan untuk bermain PS.

Sementara untuk smartphone, Anda bisa gunakan untuk keperluan bisnis online, promosi produk atau penunjang aktivitas bisnis Anda. Untuk mobil atau sepeda motor, bisa Anda gunakan untuk ojek atau taksi online, jasa rental mobil, atau keperluan lainnya yang bersifat produktif.

Contoh lainnya, Anda bisa menggunakan Pinjaman Uang untuk membeli mobil mengantarkan barang-barang pesanan pelanggan, dan lainnya. Dalam hal ini, bisa disimpulkan jika hutang konsumtif sudah Anda gunakan sebagai penunjang bisnis.

Bagaimana jika berhutang untuk membeli perhiasan emas?

Invetasi emas beda lho dengan membeli perhiasan emas. Walaupun saat dijual kembali nominal uang dari perhiasan emas tersebut tidak menurun, tapi secara nilai perhiasan emas kebanyakan akan menyusut. Hal inilah yang membuat Anda tidak disarankan berhutang hanya untuk membeli perhiasan emas.

Selain itu, pinjaman uang bekas membeli perhiasan emas pun rata-rata tidak bisa dialihkan jadi hutang produktif, kecuali jika Anda menggunakan perhiasan tersebut sebagai penunjang atau properti pertunjukan, fotografi dan lainnya.

Intinya, pinjaman untuk membiayai kebutuhan konsumtif boleh-boleh saja dilakukan, dengan catatan Anda menggunakan barang-barang tersebut untuk kegiatan atau usaha yang lebih produktif.

Dengan cara ini, meskipun secara nilai barang-barang tersebut terus mengalami penurunan, tapi setidaknya hasil Pinjaman Uang tersebut sudah memberikan nilai investasi yang cukup menguntungkan. Bagaimana, sudah siap mengalihkan hutang konsumtif Anda menjadi hutang produktif?

Jika Keluarga KMI membutuhkan modal usaha, BPR KMI siap membantu anda, apalagi kalian yang mau bikin startup bisa kok dibantu. Gak usah capek-capek datang kekantor kami, silahkan isi aplikasi disini, biar Tim Customer Service kami yang akan menghubungi anda.

Butuh dana dengan proses cepat?

AJUKAN KREDIT SEKARANG !

Ajukan!